Telekomunikasi
Menyudet Koneksi Internasional
AW Subarkah
Selama ini para pengguna internet hanya
bisa mengeluh koneksinya selalu lamban dan tidak jarang hal ini membuat frustrasi. Apalagi bila koneksi dilakukan lewat jaringan telepon tetap (rumah), dengan tarif yang berbasis waktu, akan membuat tagihan kian membengkak.
Para pengguna kebanyakan hanya bisa mengira-ngira, penyebabnya adalah infrastruktur telekomunikasi yang sudah tua, saluran Telkom buruk yang ditandai dengan bunyi keresek-keresek. Sementara, tak terdengar adanya pengembangan infrastruktur telepon kabel baru, kecuali jaringan seluler yang justru merajalela.
Bagaimana agar bisa mendapatkan informasi melalui internet secara mudah?
< style="font-weight: bold;">Palapa Ring ini akan menghubungkan sekitar 440 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia yang digagas Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Detiknas). Tahap awal jaringan serat optik itu bisa terbangun pada 18.000 desa, dan tiga tahun ke depan akan meningkat sampai sekitar 43.000 desa.
Koneksi internasional
Selama ini koneksi internasional diketahui hanya dilakukan kedua perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia itu. Koneksi internasional ini pun masih melalui jalur yang dibangun baik di Malaysia maupun di Singapura sebelum keduanya tergabung dalam konsorsium AAG.
Lalu, bagaimana dengan perusahaan lain, seperti PT Excelcomindo Pratama atau XL yang muncul belakangan? Perusahaan yang merupakan operator seluler sejak 1996 ini ternyata juga mengandalkan koneksi internasional, menggunakan radio link ke Malaysia maupun Singapura.
Bahkan, pada Agustus 2007 mendatang ini proyek jaringan kabel laut XL dari Batam ke Johor, Malaysia, diperkirakan akan siap beroperasi. Proyek yang bernama Batam Rengit Cable System (BRCS) itu akan menjadi jembatan penghubung bagi jaringan XL di Indonesia dengan jaringan Telekom Malaysia (TM). Dari Rengit, TM akan menyediakan akses kepada XL ke jaringan global.
Untuk mengukuhkan rencana besar itu pihak perusahaan induk dan anak ini menandatangani kerja sama pada 14 Maret di Bali. TM juga merupakan pemimpin konsorsium AAG.
"Proyek ini juga sebagai dukungan XL atas rencana pemerintah untuk penyediaan jasa layanan internasional yang ekonomis sehingga dapat mempercepat perkembangan teknologi bagi dunia usaha dan pendidikan di Indonesia," ungkap Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur XL.
Kabel serat optik laut XL yang sudah mulai dikerjakan sejak November 2006 akan menunjang bisnis internasional XL, baik data maupun suara. Jaringan kabel optik bawah laut Batam-Rengit ini digelar sepanjang lebih kurang 63 kilometer.
Kapasitas yang tersedia adalah 48 core, di mana setiap satu pair cable (masing-masing dengan 2 core) memiliki initial capacity sebesar 10 GHz. Dengan teknologi terbaru DWDM, satu pair cable dapat di-upgrade hingga Terrabit per detik.
"Jaringan ini akan melengkapi link yang sudah ada. Kalau hanya untuk akses internet saja, koneksi internasional yang lama tidak masalah, tetapi kami perlu memberikan saluran yang lebih besar," ujar Dian Siswarini, Direktur Layanan Jaringan XL.
Saat ini anak perusahaan Telecom Malaysia ini sudah memiliki koneksi internasional melalui radio link ke Batam-Singapura 2 STM-1 (setara dengan 2 x 64 Mbps) dan Batam-Johor 4 STM-1 (setara 4 x 64 Mbps).
Sementara, XL sudah membangun jaringan infrastruktur yang berbasis Internet Protocol (IP). Pada tahun 2006, IP backbone XL sudah tersedia di 19 kota dan tahun ini akan berkembang menjadi 50 kota. Backbone fiber optic XL berada di sepanjang Pulau Jawa, Bali, dan Lombok—yang dibangun XL sejak 1996—disambung dengan submarine cable di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
"Sekarang ini jaringan kabel optik laut sedang dibangun dari Surabaya ke Kalimantan untuk mempersingkat koneksi. Selama ini untuk koneksi ke Kalimantan harus melalui jaringan di Bali- Lombok-Nusa Tenggara-Sulawesi," kata Dian.
Adapun untuk internasional backbone sudah tersambung hingga Singapura dan Malaysia. Semua itu dibangun untuk mendukung kebutuhan IP di Indonesia. Boleh dibilang sekitar 60 persen dari jaringan backbone tersebut sudah berbasis IP.
Selain teknologi 2G, 2,5G, XL juga sudah mengimplementasikan teknologi 3G dan 3,5 G untuk produk-produknya, termasuk untuk integrasi FMC. Dengan semuanya itu, XL sudah siap untuk memasuki era full Internet Protocol, yaitu adanya konverjensi layanan voice, data, video, dan broadcasting.
Jaringan yang dibangun sudah mendukung Next Generation Network (NGN) berbasis SIP (Session Initiation Protocol) yang telah diimplementasikan secara terbatas kepada pelanggan korporat XL.
Menyudet Koneksi Internasional
AW Subarkah
Selama ini para pengguna internet hanya
bisa mengeluh koneksinya selalu lamban dan tidak jarang hal ini membuat frustrasi. Apalagi bila koneksi dilakukan lewat jaringan telepon tetap (rumah), dengan tarif yang berbasis waktu, akan membuat tagihan kian membengkak.
Para pengguna kebanyakan hanya bisa mengira-ngira, penyebabnya adalah infrastruktur telekomunikasi yang sudah tua, saluran Telkom buruk yang ditandai dengan bunyi keresek-keresek. Sementara, tak terdengar adanya pengembangan infrastruktur telepon kabel baru, kecuali jaringan seluler yang justru merajalela.
Bagaimana agar bisa mendapatkan informasi melalui internet secara mudah?
< style="font-weight: bold;">Palapa Ring ini akan menghubungkan sekitar 440 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia yang digagas Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Detiknas). Tahap awal jaringan serat optik itu bisa terbangun pada 18.000 desa, dan tiga tahun ke depan akan meningkat sampai sekitar 43.000 desa.
Koneksi internasional
Selama ini koneksi internasional diketahui hanya dilakukan kedua perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia itu. Koneksi internasional ini pun masih melalui jalur yang dibangun baik di Malaysia maupun di Singapura sebelum keduanya tergabung dalam konsorsium AAG.
Lalu, bagaimana dengan perusahaan lain, seperti PT Excelcomindo Pratama atau XL yang muncul belakangan? Perusahaan yang merupakan operator seluler sejak 1996 ini ternyata juga mengandalkan koneksi internasional, menggunakan radio link ke Malaysia maupun Singapura.
Bahkan, pada Agustus 2007 mendatang ini proyek jaringan kabel laut XL dari Batam ke Johor, Malaysia, diperkirakan akan siap beroperasi. Proyek yang bernama Batam Rengit Cable System (BRCS) itu akan menjadi jembatan penghubung bagi jaringan XL di Indonesia dengan jaringan Telekom Malaysia (TM). Dari Rengit, TM akan menyediakan akses kepada XL ke jaringan global.
Untuk mengukuhkan rencana besar itu pihak perusahaan induk dan anak ini menandatangani kerja sama pada 14 Maret di Bali. TM juga merupakan pemimpin konsorsium AAG.
"Proyek ini juga sebagai dukungan XL atas rencana pemerintah untuk penyediaan jasa layanan internasional yang ekonomis sehingga dapat mempercepat perkembangan teknologi bagi dunia usaha dan pendidikan di Indonesia," ungkap Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur XL.
Kabel serat optik laut XL yang sudah mulai dikerjakan sejak November 2006 akan menunjang bisnis internasional XL, baik data maupun suara. Jaringan kabel optik bawah laut Batam-Rengit ini digelar sepanjang lebih kurang 63 kilometer.
Kapasitas yang tersedia adalah 48 core, di mana setiap satu pair cable (masing-masing dengan 2 core) memiliki initial capacity sebesar 10 GHz. Dengan teknologi terbaru DWDM, satu pair cable dapat di-upgrade hingga Terrabit per detik.
"Jaringan ini akan melengkapi link yang sudah ada. Kalau hanya untuk akses internet saja, koneksi internasional yang lama tidak masalah, tetapi kami perlu memberikan saluran yang lebih besar," ujar Dian Siswarini, Direktur Layanan Jaringan XL.
Saat ini anak perusahaan Telecom Malaysia ini sudah memiliki koneksi internasional melalui radio link ke Batam-Singapura 2 STM-1 (setara dengan 2 x 64 Mbps) dan Batam-Johor 4 STM-1 (setara 4 x 64 Mbps).
Sementara, XL sudah membangun jaringan infrastruktur yang berbasis Internet Protocol (IP). Pada tahun 2006, IP backbone XL sudah tersedia di 19 kota dan tahun ini akan berkembang menjadi 50 kota. Backbone fiber optic XL berada di sepanjang Pulau Jawa, Bali, dan Lombok—yang dibangun XL sejak 1996—disambung dengan submarine cable di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
"Sekarang ini jaringan kabel optik laut sedang dibangun dari Surabaya ke Kalimantan untuk mempersingkat koneksi. Selama ini untuk koneksi ke Kalimantan harus melalui jaringan di Bali- Lombok-Nusa Tenggara-Sulawesi," kata Dian.
Adapun untuk internasional backbone sudah tersambung hingga Singapura dan Malaysia. Semua itu dibangun untuk mendukung kebutuhan IP di Indonesia. Boleh dibilang sekitar 60 persen dari jaringan backbone tersebut sudah berbasis IP.
Selain teknologi 2G, 2,5G, XL juga sudah mengimplementasikan teknologi 3G dan 3,5 G untuk produk-produknya, termasuk untuk integrasi FMC. Dengan semuanya itu, XL sudah siap untuk memasuki era full Internet Protocol, yaitu adanya konverjensi layanan voice, data, video, dan broadcasting.
Jaringan yang dibangun sudah mendukung Next Generation Network (NGN) berbasis SIP (Session Initiation Protocol) yang telah diimplementasikan secara terbatas kepada pelanggan korporat XL.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar